Penutupan Tahun 2009: Road-trip Medan-Berastagi-Kabanjahe
Menjelang detik-detik pergantian tahun 2009 ke 2010, rombongan Jokeezmann kota Medan beserta beberapa “orang jauh” (Bang Dani, Bang Simon) melakukan road-trip ke Berastagi! Tujuannya sih buat rekreasi sama menjarah kebun orang (wakakakka, Bang Iben nih yang memprakarsai).
Rombongan yang terdiri dari Pak Tua Petrus, Bang Petrus, Bang Dani, Bang Ben, Bang Simon, Nicholas, Gloria, Ian, Gio, dan Lois bergerak dari tempat Ketua Sinode (Bakti Luhur, Medan) sekitar jam 9 pagi. Menggunakan 2 mobil, Xenia-nya Pak Tua Petrus dan Kuda punya Ama ni Nicho, rombongan langsung menuju Berastagi tanpa ba-bi-bu.
Berhubung ketika tiba di Berastagi sudah memasuki jam makan siang, maka pemberhentian pertama diputuskan untuk makan siang di rumah makan BPK Tesalonika 6 di Peceran. Menu yang digasak, tak lain tak bukan Babi Panggang a-la Karo, beserta sup dan rekan-rekannya.
Disini orang yang paling punya peran besar dalam menuntaskan jamuan adalah Bang Simon. Sebagai pertolongan terakhir bagi boru Hotang yang sibuk menjaga berat badan tubuh, Bang Simon jadi orang terakhir yang selesai makan. Wakakakkaka..
Perjalanan pun dilanjutkan ke Kabanjahe, berhubung informasi dari Bang Ben: ada anggota jemaat yang punya kebun sayur.
Tiba di te-ka-pe, rombongan langsung melakukan jalinan kasih singkat, kenalan dengan yang punya kebun dan langsung masuk ke kebun sayur buat turut dalam acara panen dadakan. Benar-benar pengalaman yang baru untuk panen wortel dan sawi secara langsung di daerah yang terkenal sebagai penghasil sayuran utama buat kota Medan.
Di kala itu, tercapai juga aksi photo-session yang ditunggu-tunggu.
Usai panen dadakan, kami pun memutuskan untuk turun kembali ke Kabanjahe karena Bang Dani mau nyari buah pokat (bahasa Indonesia: alpukat) buat oleh-oleh. Maka kami pun hunting pokat di pasar Kabanjahe. Awalnya sih mau cari kenalan Bang Ben yang punya ladang pokat, tapi berhubung jauh.. ya kita belanja di pasar aja ding.
Usai dengan urusan Pokat, rombongan sepakat untuk kembali melanjutkan perjalanan, mengingat sudah tidak ada lagi target operasi selanjutnya. Rute perjalanan sedikit bertambah panjang karena navigator merangkap ketua panitia salah menunjukkan jalan. Hampir saja kami terdampar di pelosok gunung, gara-gara terbuai sama hamparan kebun jeruk.
Sukur akhirnya kami berhasil kembali ke jalan yang benar, rombongan langsung turun menuju Penatapan. Target utama adalah menikmati jagung bakar.
Sekitar pukul 5 sore, rombongan bergerak kembali ke Medan. Karena mau bersiap buat istirahat sebelum memulai acara penutupan tahun (seperti yang biasa dilakukan di keluarga Sihotang ini). Tapi kondisi lalu lintas benar-benar bikin para peserta jadi STRONG.. Kita kecebak macet sampai 8 jam lebih!
Tapi bukan cucu Ompung Jukisman namanya, kalau gak bisa mengkondisikan situasi menjadi positif. Rombongan malah merayakan malam pergantian tahun dengan ceria di tiap perhentian. Walaupun perut lapar, tapi kami bertahan demi mengejar masakan Inangtua Bintang dan Inanguda Andez yang sudah dipersiapkan. Walaupun banyak mobil memotong antrian, tapi supir-supir terbaik bangsa ada di tengah kami, tetap sabar pada jalurnya.
Amangtua Bintang dengan inisiatif pun memborong terompet yang dibawa oleh seorang penjual terompet, dan kami ber-ricuh-ria disana

















ahh, kemaren saya pulkam cuma sempet lewat doank di berastagi…hehehe